Senin, 27 April 2009
gagal ginjal kronik
aku tidak menyangka bahwa gagal ginjal kronis akan merenggut kehidupanku.... 3 april 2009, tepat 3 hari setelah akad nikah dilangsungkan aku terjatuh lemas tak berdaya ditempat tidur... rasa sakit yang mencekat, mencengkeram bagian pinggul. hingga rasa sakit itu semakin tak tertahankan... 3 kali dokter membius dan rasa sakit itu mulai terasa berkurang hingga akhirnya hilang dan aku lemas dibuatnya.
Selasa, 20 Januari 2009
kegagalan israel
Kegagalan Israel
www.iLuvislam.com
Firdaus Rahim*
editor : kasihsayang
Ketahuilah, Palestin kini secara politiknya ada dua bahagian, Genting Gaza (Gaza Strip) & Tebing Barat (West Bank).
Secara haknya, seluruh kawasan 'Israel' (secara tegas saya nyatakan negara ini tidak wujud) dan 2 bahagian ini ialah wilayah Palestin yang sebenar.
Bagaimana Gaza mendapat namanya?
Bayangkan kalau seluruh rakyat Pahang dihalau dan disuruh masuk ke kawasan Kuantan dan sekitarnya, maka akan terbentuklah Genting Kuantan. Maka, bandar terbesar di Genting ini ialah bandar Kuantan.
Begitulah juga dengan Gaza dengan bandar utamanya iaitu Gaza City. Gaza ni kecil sahaja, lebih kecil daripada Perlis, dan besar sikit daripada bandaraya Kuala Lumpur (ibu kota Malaysia).
Dulu apabila saya membaca kepadatan penduduk dunia, maka dikatakan kawasan terpadat di dunia ialah Macau la, Malta la, Monaco la. Rupanya Gaza lebih padat lagi. Bayangkan dalam kawasan sekecil tu, ada 1.5 juta orang penduduk!
Memang Israel hendak menjadikan Palestin sebagai ground Zero. Mungkin mereka telah 'berjaya' menghapuskan anak muda (setakat ini 30% terbunuh ialah kanak-kanak). Mungkin ramai wanita-wanita yang hilang suami dan sebaliknya.
Namun yang gagal dihalang Israel ialah;
i) dunia semakin tahu akan kedajalan Israel
ii) dunia semakin kenal watak jahat AS dan bagaimana badutnya Bush (dan Obama yang dua kali lima)
iii) dunia semakin tahu akan kehebatan HAMAS
iv) Gaza semakin terkenal
v) ummat dunia terutamanya Muslim bertambah sedar akan isu Palestin
Komen editor: Kita perlu sedar bahawa serangan Israel laknatullah terhadap Gaza merupakan isu kemanusiaan. Bayangkan sebuah 'tempat' kecil yang dikelilingi oleh tembok buatan Israel dan dipenuhi jutaan orang, diserang dengan kapal terbang perang, Apache dan kereta kebal. Bayangkan jika Kuala Lumpur (Gaza hanya sebesar Kuala Lumpur) diserang begitu oleh Israel. Sebab itulah kita dapat lihat response seluruh masyarakat dunia, tidak kira Muslim atau bukan Muslim.
* Firdaus Rahim merupakan salah seorang co-founders iLuvislam.com. Artikel ini disunting dari blog beliau, firdausrahim.iluvislam.com
www.iLuvislam.com
Firdaus Rahim*
editor : kasihsayang
Ketahuilah, Palestin kini secara politiknya ada dua bahagian, Genting Gaza (Gaza Strip) & Tebing Barat (West Bank).
Secara haknya, seluruh kawasan 'Israel' (secara tegas saya nyatakan negara ini tidak wujud) dan 2 bahagian ini ialah wilayah Palestin yang sebenar.
Bagaimana Gaza mendapat namanya?
Bayangkan kalau seluruh rakyat Pahang dihalau dan disuruh masuk ke kawasan Kuantan dan sekitarnya, maka akan terbentuklah Genting Kuantan. Maka, bandar terbesar di Genting ini ialah bandar Kuantan.
Begitulah juga dengan Gaza dengan bandar utamanya iaitu Gaza City. Gaza ni kecil sahaja, lebih kecil daripada Perlis, dan besar sikit daripada bandaraya Kuala Lumpur (ibu kota Malaysia).
Dulu apabila saya membaca kepadatan penduduk dunia, maka dikatakan kawasan terpadat di dunia ialah Macau la, Malta la, Monaco la. Rupanya Gaza lebih padat lagi. Bayangkan dalam kawasan sekecil tu, ada 1.5 juta orang penduduk!
Memang Israel hendak menjadikan Palestin sebagai ground Zero. Mungkin mereka telah 'berjaya' menghapuskan anak muda (setakat ini 30% terbunuh ialah kanak-kanak). Mungkin ramai wanita-wanita yang hilang suami dan sebaliknya.
Namun yang gagal dihalang Israel ialah;
i) dunia semakin tahu akan kedajalan Israel
ii) dunia semakin kenal watak jahat AS dan bagaimana badutnya Bush (dan Obama yang dua kali lima)
iii) dunia semakin tahu akan kehebatan HAMAS
iv) Gaza semakin terkenal
v) ummat dunia terutamanya Muslim bertambah sedar akan isu Palestin
Komen editor: Kita perlu sedar bahawa serangan Israel laknatullah terhadap Gaza merupakan isu kemanusiaan. Bayangkan sebuah 'tempat' kecil yang dikelilingi oleh tembok buatan Israel dan dipenuhi jutaan orang, diserang dengan kapal terbang perang, Apache dan kereta kebal. Bayangkan jika Kuala Lumpur (Gaza hanya sebesar Kuala Lumpur) diserang begitu oleh Israel. Sebab itulah kita dapat lihat response seluruh masyarakat dunia, tidak kira Muslim atau bukan Muslim.
* Firdaus Rahim merupakan salah seorang co-founders iLuvislam.com. Artikel ini disunting dari blog beliau, firdausrahim.iluvislam.com
Sabtu, 17 Januari 2009
palestina mengadu
BOHONG jika Israel mengatakan... hamas memiliki senjata pemusnah massal.... bohong jika Israel menyatakan Palestina memiliki terowongan menuju ke Raffah... yang ada adalah terowongan bikinan yahudi untuk menghancurkan masjidil aqso.... bohong jika Israel menyatakan Hammas adalah Teroris... justru israellah yang Teroris.... bohong jika Amerika Serikat mau membantu Palestina... yang ada hanyalah ikut andil dalam menghancurkan Umat islam disana.... bohong jika Pemerintah Indonesia bersedia membantu.... yang ada hanyalah teriakan-teriakan dibawah ketiak PBB..... Pecundang
PBB hanya akan membuat lama Proses bantuan ke Gaza.... PBB adalah produk buatan Israel dan Amerika.... Terlaknatlah mereka yang membantu Israel... termasuk mereka yang tidak berani... dan pengecut... dihadapan Israel.... MESIR.... Arab Saudi.... kenapa kalian???? Apa kalian lupa pada Pertolongan ALLah....
PBB hanya akan membuat lama Proses bantuan ke Gaza.... PBB adalah produk buatan Israel dan Amerika.... Terlaknatlah mereka yang membantu Israel... termasuk mereka yang tidak berani... dan pengecut... dihadapan Israel.... MESIR.... Arab Saudi.... kenapa kalian???? Apa kalian lupa pada Pertolongan ALLah....
palestine tanah yang terampas
wiemasen.com Rotating Header Image
Palestina Tanah Wakaf Umat Islam yang Terampas
Jan 10th, 2009
by wiemasen.
Bangsa Yahudi menumpahkan kebencian dan kedengkiannya terhadap Islam di Palestina. Tak bisa dibiarkan rakyat Palestina menderita terlalu lama. Sanggupkah umat Islam bergerak? Ketika disintegrasi mengintip umat Islam (1000-1250), mulailah Palestina menjadi ajang pertikaian berdarah. Salah satunya adalah Perang Salib. Menurut catatan sejarah, Perang Salib I (1096-1144) diawali terhalangnya ziarah umat Kristen Eropa ke Yerusalem, lantaran Dinasti Seljuk yang mengusai Anatolia. Sehingga Paus Urbanus II berseru mengobarkan perang melawan umat Islam (1095).
Tapi, Tampaknya, kasus terhalangnya umat Kristen ini hanya entry point agar Kristen punya alasan menguasai Palestina, tempat lahirnya Nabi Isa as. Tak aneh bila perang Salib pun harus berjilid-jilid, yakni Perang Salib kedua pada tahun 1144-1192, dan Perang Salib ketiga 1193-1291. Namun, yang jelas kaum Muslim mampu mempertahankan tanah wakaf Palestina, yang awalnya telah dimerdekakan Al-Faruq, Khalifah Umar ibnul Khattab, dari penjajah Romawi.
Kala Palestina di bawah Kekhalifahan Turki Utsmani, Inggris mampu menguasai kawasan Bulan Sabit (Fertile Creescent) di Yordania dekat Palestina (1917/1918). Sejak itu Palestina selalu menjadi ajang rebutan pengaruh negara-negara Eropa. Seiring kekalahan Turki Utsmani yang bersekutu dengan Jerman, pada Perang Dunia I (1914-1918), akhirnya Palestina jatuh ke tangan Inggris. Sejak itulah malapetaka Palestina menemui babak baru.
Pasalnya, atas prakarsa Menteri Luar Negerinya Arthur James Balfour (2 November 1917), yang terkenal dengan Deklarasi Balfour. Inggris memberi dukungan berdirinya negara Yahudi di Palestina dengan Boleh jadi keberpihakan Inggris terhadap bangsa Yahudi karena trauma Perang Salib yang berkarat. Deklarasi Balfour disambut bangsa Yahudi dengan suka cita, karena telah melegimitasi cita-cita Kongres I bangsa Yahudi di Basel Swiss.
Kongres yang berlangsung pada tanggal 29 Agustus 1897 itu menyepakati gerakan Zionisme sebagi usaha menuju negara Yahudi. Lebih dari itu, Zionisme tidak sekadar membentuk negara Yahudi, tapi merupakan batu loncatan terbentuknya Israel Raya di permukaan bumi, seperti yang tercantum dalam Protokol Yahudi. Cita-cita Zionis ini berkaitan erat dengan perasaan lebih unggul bangsa Yahudi ketimbang bangsa lain. “Yahudi memang mengklaim dirinya sebagai bangsa pilihan Tuhan. Sedangkan bangsa lain mereka anggap ghayem, binatang ternak yang harus ditunggangi,” jelas Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan, Abu Ridho. Dengan terbentuknya Negara Israel, maka obsesi Yahudi menjadi penguasa dunia akan lebih mudah jalannya.
Ideolog Zionisme Theodore Herzl dalam buku Der Judenstaat (The Jewish State), mengupas pentingnya Palestina sebagai negara Yahudi, setelah mereka tercerai-berai. Awal tercerai-berainya bangsa Yahudi terjadi pada saat Palestina dikuasai Cyrus Agung (memerintah 576-529 SM) pendiri Kerajaan Persia. Kemudian mereka kembali terusir ketika Pasukan Romawi di bawah Panglima Papyrus (tahun 70) menguasai Palestina.
Akibat itu semua, mereka tersebar di segenap penjuru dunia. Dan, di setiap daerah sebaran Yahudi, mereka ditolak atau diusir bangsa setempat. Penolakan bangsa setempat itu, karena bangsa Yahudi kerap menimbulkan masalah. Peristiwa yang paling monumental adalah dari pengusiran Kabilah Yahudi Madinah di zaman Rasulullah saw, lantaran mereka melanggar perjanjian Piagam Madinah.
Keberadaan bangsa Yahudi baru muncul pada abad 19, setelah sebagian dari mereka muncul menjadi usahawan sukses dan ilmuwan ternama seperti ekonom Adam Smith, sosiolog Karl Marx, atau fisikawan Albert Einsten. Hanya saja pengaruh besar bangsa Yahudi itu tidak searah dengan kecemasan hidup mereka ketika harus tinggal bersama-sama bangsa lain. Tak aneh, bila pengamat politik R William Liddle melihat kecemasan itu masih ada hingga saat ini, khususnya di Amerika Serikat.
Pada tanggal 14 Agustus 1922, Inggris menempatkan Herbert Samuel sebagai wakilnya di Palestina. Dan sejak itulah secara resmi izin imigrasi Yahudi Eropa efektif berlaku. Izin ini menimbulkan amarah bangsa-bangsa Arab. Lantaran, jumlah Yahudi tidak lebih dari 5% persen penduduk Palestina, sedangkan sekitar 85% penduduknya beragama Islam. Sejak itu negara-negara Arab menolak kekuasaan Inggris atas Palestina.
Akibat Deklarasi Balfour jumlah penduduk Yahudi meningkat tajam. Pada tahun 1944 jumlahnya telah mencapai 554.000 orang, padahal tahun 1931 baru 83.610 orang. Pertumbuhan inilah yang membuat marah Muslimin Palestina, hingga memberontak terhadap Inggris.
Melihat situasi yang tidak menguntungkan ini, Inggris meminta bantuan PBB untuk berperan aktif menyelesaikan masalah Palestina. Muncullah Resolusi PBB No. 181 pada tanggal 29 November 1947, yang isinya membagi Palestina menjadi negara Arab dan negara Israel. Dan, untuk sementara Palestina di bawah pengawasan internasional. Keputusan PBB disambut dengan antusias oleh bangsa Yahudi. Setelah Inggris mengundurkan diri, mereka dengan culas memproklamirkan negara Israel dengan ibukota Yerussalem.
Tapi sebaliknya bagi Muslimin Palestina. Resolusi No. 181 itu telah menabuh genderang perang Arab-Israel. Pada bulan Mei 1948 kaum Muslim menyerbu Israel dengan dukungan bangsa-bangsa Arab lainnya. Peperangan itu akhirnya memaksa PBB memprakarsai genjatan senjata, hanya saja tanpa ada perjanjian. Sehingga perang kedua pun pecah kembali pada tahun 1967 yang dikenal dengan Perang Enam Hari. Sayangnya, seluruh Palestina sampai Port Said Mesir dikuasai Israel.
Tentu saja jatuhnya Palestina ke tangan Zionis membuat kesedihan kaum Muslim dan bangsa Arab makin menjadi-jadi. Sehingga, tidak ada jalan lain, perang pun dikobarkan. Pada tahun 1973 perang pecah kembali, yang terkenal dengan Perang Yom Kipur. Hanya saja perang ini tidak mampu mengembalikan wilayah Palestina secara utuh, hanya mengembalikan Gurun Sinai dan Bar-lev.
Ironisnya, perjuangan Muslimin Palestina justru dinodai sikap Presiden Mesir Anwar Sadat yang mengakui secara diplomatik Negara Israel (1977). Inilah awal dari lemahnya posisi Muslimin Palestina, karena kehilangan sekutu terdekat dalam menghadapi Israel. Maka, tak aneh bila posisi Muslimin Palestina semakin terjepit.
Posisi terjepit semakin menjadi-jadi setelah perundingan Camp David antara Mesir dan Israel, dengan sponsor Amerika. Lantaran, secara diplomatik Mesir mengakui wilayah Palestina yang dirampok Israel. Dan hanya membicarakan otonomi beberapa wilayah Palestina seperti Gaza dan Tepi Barat, serta sedikit menyelesaikan Sinai.
Di satu pihak kemenangan diplomatik ini membuat Israel percaya diri, dan semakin brutal. Ini terbukti dengan tindakan Israel merampok tanah Lebanon Selatan pada tahun 1982. Dan, biadabnya lagi, pasukan Israel dipimpin Ariel Sharon membantai pengungsi Palestina yang berada di kamp Sabra dan Satila (17 September 1982). Pembantaian itu mengisyaratkan bahwa Israel tidak ada niatan berhenti berperang, dan tidak mau kalah sejengkal pun dari muslimin Palestina. Karena itu, AS sebagai sekutu utama Israel mencoba menggandeng Yordania. Inisiatif ini diprakrsai oleh Presiden AS Ronald Reagan (1982). Boleh jadi perundingan ini untuk menghindari adanya perundingan langsung Israel dengan kaum Muslim, yang bisa secara eksplisit memaksa Israel mengakui keberadaan Muslimin Palestina.
Untuk menghindari perundingan dengan kaum Muslim, Israel mencoba memecah belah bangsa Palestina. Caranya dengan mengajak berunding faksi nasionalis-sekuler Palestina yakni PLO (Palestine Liberation Organization), pimpinan Yasser Arafat. Sementara faksi Islam seperti Hamas tidak dilibatkan. Politik pecah-belah ini mulai menemui hasil ketika PLO mengadakan perundingan damai dengan Israel di Madrid Spanyol (Oktober 1991), yang hasilnya berupa pengakuan PLO terhadap negara Israel beserta seluruh wilayahnya.
Kegigihan Israel untuk meluluhlantakkan kekuatan umat Islam di Palestina, menurut Abu Ridho, sejalan dengan sikapnya menjadikan umat Islam sebagai musuh bersama. Abu Ridho lebih jauh menegaskan bahwa permusuhan Islam dan Yahudi akarnya adalah ideologi, bukan sekadar perebutan wilayah. Karena itu, peperangan yang ingin dilancarkan Yahudi juga bersifat semesta.
Senada dengan Abu Ridho, ahli tafsir Dr. Ahzami Samiun Jazuli menyatakan, pertempuran antara Islam dan Yahudi adalah abadi. Menurut Ahzami, peristiwa-peristiwa yang terjadi di Palestina hanyalah pengingat kaum Muslim bahwa ada musuh abadi yang menentang Islam, yaitu Yahudi.
Terkait dengan Yahudi, Dr. Yusuf Qardhawi memberikan pandangan. Penulis puluhan buku ini mengatakan, saudara terdekat Islam dalam tauhid adalah Yahudi bukan Nasrani. Karena mereka tidak menganggap Isa sebagai Tuhan, mengharamkan babi, dan memerintahkan berkhitan. Hanya, meski ketauhidannya dekat, tapi kebencian dan kedengkiannya pada Islam amat kental. Ketika Muhammad saw diangkat menjadi rasul, mereka tidak segera mengimani bahkan menentangnya, hanya karena Rasulullah bukan orang Yahudi. Lebih dari itu, bangsa Yahudi telah meneteskan darah nabi-nabi yang datang pada mereka. Termasuk persekongkolan mereka dalam usaha pembunuhan Isa as, nabinya umat Nasrani. Repotnya, negara-negara barat yang mayoritas Nasrani seperti Amerika Serikat, justru dikangkangi Yahudi.
Menurut pengamat politik R William Liddle, pengaruh Yahudi di Amerika Serikat sangat kuat, lantaran Yahudi Amerika menguasai semua bidang kehidupan di sana. Padahal jumlah mereka cuma 3% dari penduduk Amerika Serikat yang mencapai 248 juta jiwa (1989). Tapi dengan jumlah yang kecil itu, menurut Liddle, membuat mereka ulet. Sehingga bangsa Yahudi Amerika Serikat mampu menyusup dan mempengaruhi berbagai bidang kehidupan, seperti George Soros di bidang ekonomi dan Henry Kissinger dalam politik. Padahal menurut Guru Besar Politik The Ohio State University ini, bangsa Yahudi awalnya hanyalah peddlers, pedagang eceran keliling dan pengusaha bankir kecil. Kerja keras mereka memang luar biasa. Dan kerusakan yang mereka timbulkan juga amat besar.
Karena itu, wajar bila Abu Ridho mengatakan bahwa tidak cukup melawan Yahudi dengan bekal semangat saja. Tapi lebih dari itu. Untuk itu, menurutnya, jihad harus selalu dikobarkan di segala bidang. Umat Islam di seluruh dunia harus menyiapkan diri agar mampu memenangkan pertempuran semesta ini. Allahu Akbar! n
Sumber: www.sabili.co.id
Palestina Tanah Wakaf Umat Islam yang Terampas
Jan 10th, 2009
by wiemasen.
Bangsa Yahudi menumpahkan kebencian dan kedengkiannya terhadap Islam di Palestina. Tak bisa dibiarkan rakyat Palestina menderita terlalu lama. Sanggupkah umat Islam bergerak? Ketika disintegrasi mengintip umat Islam (1000-1250), mulailah Palestina menjadi ajang pertikaian berdarah. Salah satunya adalah Perang Salib. Menurut catatan sejarah, Perang Salib I (1096-1144) diawali terhalangnya ziarah umat Kristen Eropa ke Yerusalem, lantaran Dinasti Seljuk yang mengusai Anatolia. Sehingga Paus Urbanus II berseru mengobarkan perang melawan umat Islam (1095).
Tapi, Tampaknya, kasus terhalangnya umat Kristen ini hanya entry point agar Kristen punya alasan menguasai Palestina, tempat lahirnya Nabi Isa as. Tak aneh bila perang Salib pun harus berjilid-jilid, yakni Perang Salib kedua pada tahun 1144-1192, dan Perang Salib ketiga 1193-1291. Namun, yang jelas kaum Muslim mampu mempertahankan tanah wakaf Palestina, yang awalnya telah dimerdekakan Al-Faruq, Khalifah Umar ibnul Khattab, dari penjajah Romawi.
Kala Palestina di bawah Kekhalifahan Turki Utsmani, Inggris mampu menguasai kawasan Bulan Sabit (Fertile Creescent) di Yordania dekat Palestina (1917/1918). Sejak itu Palestina selalu menjadi ajang rebutan pengaruh negara-negara Eropa. Seiring kekalahan Turki Utsmani yang bersekutu dengan Jerman, pada Perang Dunia I (1914-1918), akhirnya Palestina jatuh ke tangan Inggris. Sejak itulah malapetaka Palestina menemui babak baru.
Pasalnya, atas prakarsa Menteri Luar Negerinya Arthur James Balfour (2 November 1917), yang terkenal dengan Deklarasi Balfour. Inggris memberi dukungan berdirinya negara Yahudi di Palestina dengan Boleh jadi keberpihakan Inggris terhadap bangsa Yahudi karena trauma Perang Salib yang berkarat. Deklarasi Balfour disambut bangsa Yahudi dengan suka cita, karena telah melegimitasi cita-cita Kongres I bangsa Yahudi di Basel Swiss.
Kongres yang berlangsung pada tanggal 29 Agustus 1897 itu menyepakati gerakan Zionisme sebagi usaha menuju negara Yahudi. Lebih dari itu, Zionisme tidak sekadar membentuk negara Yahudi, tapi merupakan batu loncatan terbentuknya Israel Raya di permukaan bumi, seperti yang tercantum dalam Protokol Yahudi. Cita-cita Zionis ini berkaitan erat dengan perasaan lebih unggul bangsa Yahudi ketimbang bangsa lain. “Yahudi memang mengklaim dirinya sebagai bangsa pilihan Tuhan. Sedangkan bangsa lain mereka anggap ghayem, binatang ternak yang harus ditunggangi,” jelas Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan, Abu Ridho. Dengan terbentuknya Negara Israel, maka obsesi Yahudi menjadi penguasa dunia akan lebih mudah jalannya.
Ideolog Zionisme Theodore Herzl dalam buku Der Judenstaat (The Jewish State), mengupas pentingnya Palestina sebagai negara Yahudi, setelah mereka tercerai-berai. Awal tercerai-berainya bangsa Yahudi terjadi pada saat Palestina dikuasai Cyrus Agung (memerintah 576-529 SM) pendiri Kerajaan Persia. Kemudian mereka kembali terusir ketika Pasukan Romawi di bawah Panglima Papyrus (tahun 70) menguasai Palestina.
Akibat itu semua, mereka tersebar di segenap penjuru dunia. Dan, di setiap daerah sebaran Yahudi, mereka ditolak atau diusir bangsa setempat. Penolakan bangsa setempat itu, karena bangsa Yahudi kerap menimbulkan masalah. Peristiwa yang paling monumental adalah dari pengusiran Kabilah Yahudi Madinah di zaman Rasulullah saw, lantaran mereka melanggar perjanjian Piagam Madinah.
Keberadaan bangsa Yahudi baru muncul pada abad 19, setelah sebagian dari mereka muncul menjadi usahawan sukses dan ilmuwan ternama seperti ekonom Adam Smith, sosiolog Karl Marx, atau fisikawan Albert Einsten. Hanya saja pengaruh besar bangsa Yahudi itu tidak searah dengan kecemasan hidup mereka ketika harus tinggal bersama-sama bangsa lain. Tak aneh, bila pengamat politik R William Liddle melihat kecemasan itu masih ada hingga saat ini, khususnya di Amerika Serikat.
Pada tanggal 14 Agustus 1922, Inggris menempatkan Herbert Samuel sebagai wakilnya di Palestina. Dan sejak itulah secara resmi izin imigrasi Yahudi Eropa efektif berlaku. Izin ini menimbulkan amarah bangsa-bangsa Arab. Lantaran, jumlah Yahudi tidak lebih dari 5% persen penduduk Palestina, sedangkan sekitar 85% penduduknya beragama Islam. Sejak itu negara-negara Arab menolak kekuasaan Inggris atas Palestina.
Akibat Deklarasi Balfour jumlah penduduk Yahudi meningkat tajam. Pada tahun 1944 jumlahnya telah mencapai 554.000 orang, padahal tahun 1931 baru 83.610 orang. Pertumbuhan inilah yang membuat marah Muslimin Palestina, hingga memberontak terhadap Inggris.
Melihat situasi yang tidak menguntungkan ini, Inggris meminta bantuan PBB untuk berperan aktif menyelesaikan masalah Palestina. Muncullah Resolusi PBB No. 181 pada tanggal 29 November 1947, yang isinya membagi Palestina menjadi negara Arab dan negara Israel. Dan, untuk sementara Palestina di bawah pengawasan internasional. Keputusan PBB disambut dengan antusias oleh bangsa Yahudi. Setelah Inggris mengundurkan diri, mereka dengan culas memproklamirkan negara Israel dengan ibukota Yerussalem.
Tapi sebaliknya bagi Muslimin Palestina. Resolusi No. 181 itu telah menabuh genderang perang Arab-Israel. Pada bulan Mei 1948 kaum Muslim menyerbu Israel dengan dukungan bangsa-bangsa Arab lainnya. Peperangan itu akhirnya memaksa PBB memprakarsai genjatan senjata, hanya saja tanpa ada perjanjian. Sehingga perang kedua pun pecah kembali pada tahun 1967 yang dikenal dengan Perang Enam Hari. Sayangnya, seluruh Palestina sampai Port Said Mesir dikuasai Israel.
Tentu saja jatuhnya Palestina ke tangan Zionis membuat kesedihan kaum Muslim dan bangsa Arab makin menjadi-jadi. Sehingga, tidak ada jalan lain, perang pun dikobarkan. Pada tahun 1973 perang pecah kembali, yang terkenal dengan Perang Yom Kipur. Hanya saja perang ini tidak mampu mengembalikan wilayah Palestina secara utuh, hanya mengembalikan Gurun Sinai dan Bar-lev.
Ironisnya, perjuangan Muslimin Palestina justru dinodai sikap Presiden Mesir Anwar Sadat yang mengakui secara diplomatik Negara Israel (1977). Inilah awal dari lemahnya posisi Muslimin Palestina, karena kehilangan sekutu terdekat dalam menghadapi Israel. Maka, tak aneh bila posisi Muslimin Palestina semakin terjepit.
Posisi terjepit semakin menjadi-jadi setelah perundingan Camp David antara Mesir dan Israel, dengan sponsor Amerika. Lantaran, secara diplomatik Mesir mengakui wilayah Palestina yang dirampok Israel. Dan hanya membicarakan otonomi beberapa wilayah Palestina seperti Gaza dan Tepi Barat, serta sedikit menyelesaikan Sinai.
Di satu pihak kemenangan diplomatik ini membuat Israel percaya diri, dan semakin brutal. Ini terbukti dengan tindakan Israel merampok tanah Lebanon Selatan pada tahun 1982. Dan, biadabnya lagi, pasukan Israel dipimpin Ariel Sharon membantai pengungsi Palestina yang berada di kamp Sabra dan Satila (17 September 1982). Pembantaian itu mengisyaratkan bahwa Israel tidak ada niatan berhenti berperang, dan tidak mau kalah sejengkal pun dari muslimin Palestina. Karena itu, AS sebagai sekutu utama Israel mencoba menggandeng Yordania. Inisiatif ini diprakrsai oleh Presiden AS Ronald Reagan (1982). Boleh jadi perundingan ini untuk menghindari adanya perundingan langsung Israel dengan kaum Muslim, yang bisa secara eksplisit memaksa Israel mengakui keberadaan Muslimin Palestina.
Untuk menghindari perundingan dengan kaum Muslim, Israel mencoba memecah belah bangsa Palestina. Caranya dengan mengajak berunding faksi nasionalis-sekuler Palestina yakni PLO (Palestine Liberation Organization), pimpinan Yasser Arafat. Sementara faksi Islam seperti Hamas tidak dilibatkan. Politik pecah-belah ini mulai menemui hasil ketika PLO mengadakan perundingan damai dengan Israel di Madrid Spanyol (Oktober 1991), yang hasilnya berupa pengakuan PLO terhadap negara Israel beserta seluruh wilayahnya.
Kegigihan Israel untuk meluluhlantakkan kekuatan umat Islam di Palestina, menurut Abu Ridho, sejalan dengan sikapnya menjadikan umat Islam sebagai musuh bersama. Abu Ridho lebih jauh menegaskan bahwa permusuhan Islam dan Yahudi akarnya adalah ideologi, bukan sekadar perebutan wilayah. Karena itu, peperangan yang ingin dilancarkan Yahudi juga bersifat semesta.
Senada dengan Abu Ridho, ahli tafsir Dr. Ahzami Samiun Jazuli menyatakan, pertempuran antara Islam dan Yahudi adalah abadi. Menurut Ahzami, peristiwa-peristiwa yang terjadi di Palestina hanyalah pengingat kaum Muslim bahwa ada musuh abadi yang menentang Islam, yaitu Yahudi.
Terkait dengan Yahudi, Dr. Yusuf Qardhawi memberikan pandangan. Penulis puluhan buku ini mengatakan, saudara terdekat Islam dalam tauhid adalah Yahudi bukan Nasrani. Karena mereka tidak menganggap Isa sebagai Tuhan, mengharamkan babi, dan memerintahkan berkhitan. Hanya, meski ketauhidannya dekat, tapi kebencian dan kedengkiannya pada Islam amat kental. Ketika Muhammad saw diangkat menjadi rasul, mereka tidak segera mengimani bahkan menentangnya, hanya karena Rasulullah bukan orang Yahudi. Lebih dari itu, bangsa Yahudi telah meneteskan darah nabi-nabi yang datang pada mereka. Termasuk persekongkolan mereka dalam usaha pembunuhan Isa as, nabinya umat Nasrani. Repotnya, negara-negara barat yang mayoritas Nasrani seperti Amerika Serikat, justru dikangkangi Yahudi.
Menurut pengamat politik R William Liddle, pengaruh Yahudi di Amerika Serikat sangat kuat, lantaran Yahudi Amerika menguasai semua bidang kehidupan di sana. Padahal jumlah mereka cuma 3% dari penduduk Amerika Serikat yang mencapai 248 juta jiwa (1989). Tapi dengan jumlah yang kecil itu, menurut Liddle, membuat mereka ulet. Sehingga bangsa Yahudi Amerika Serikat mampu menyusup dan mempengaruhi berbagai bidang kehidupan, seperti George Soros di bidang ekonomi dan Henry Kissinger dalam politik. Padahal menurut Guru Besar Politik The Ohio State University ini, bangsa Yahudi awalnya hanyalah peddlers, pedagang eceran keliling dan pengusaha bankir kecil. Kerja keras mereka memang luar biasa. Dan kerusakan yang mereka timbulkan juga amat besar.
Karena itu, wajar bila Abu Ridho mengatakan bahwa tidak cukup melawan Yahudi dengan bekal semangat saja. Tapi lebih dari itu. Untuk itu, menurutnya, jihad harus selalu dikobarkan di segala bidang. Umat Islam di seluruh dunia harus menyiapkan diri agar mampu memenangkan pertempuran semesta ini. Allahu Akbar! n
Sumber: www.sabili.co.id
sholahuddin al ayubi
wiemasen.com Rotating Header Image
Keteladanan Shalahuddin Al-Ayyubi Dalam Perang Salib
Jan 10th, 2009
by wiemasen.
Hidayatullah.com–”Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.”
Kisah di atas bukan skenario film yang fiktif, tapi sungguh-sungguh pernah terjadi. Itu adalah pengakuan seseorang bernama Raymond, salah satu serdadu Perang Salib I. Pengakuan ini didokumentasikan oleh August C Krey, penulis buku The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Praticipants (Princeton and London: 1991).
Bagi kaum Muslimin, Perang Salib I (1096-1099) memang menyesakkan. Menurut catatan Krey, hanya dalam tempo dua hari, 40.000 kaum Muslimin dan Yahudi di sekitar Palestina, baik pria maupun wanita, dibantai secara massal dengan cara tak berperikemanusiaan. Cara pembantaiannya tergambar dalam pengakuan Raymond di atas.
Sepak Terjang Tentara Salib
Sejak tentara Islam yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil membebaskan Palestina dari dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) sampai abad ke-11 M, Palestina berada di bawah pemerintahan Islam dan merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi.
Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari kekuasaan Raja Byzantium, Alexius I. Raja ini kemudian minta tolong kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang mereka sebut “orang kafir”.
Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim—yang menguasai Palestina saat itu—menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali,” kata Paus.
Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang.
Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan—terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipil—untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!)
Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci.
Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem).
Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Antiokia, Suriah) pada tanggal 3 Juni 1098.
Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah.
Teladan Shalahuddin Al-Ayyubi
Pada tahun 1145-1147 berlangsung Perang Salib II. Namun pada peperangan ini tidak terjadi pertempuran berarti karena ekspedisi perang tentara Eropa yang dipimpin oleh Raja Louis VII dari Perancis gagal mencapai Palestina. Mereka tertahan di Iskandariyah lalu kembali ke negara asalnya.
Perang besar-besaran baru terjadi sekitar empat dasawarsa berikutnya pada Perang Salib III (1187-1191). Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syi’ah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Dinasti Fathimiyah, merasa prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan Eropa-Kristen yang juga bahu-membahu.
Melalui serangkaian lobi, akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan damai. Pekerjaan pertama selesai. Shalahuddin kini dihadapkan pada perilaku kaum Muslimin yang tampak loyo dan tak punya semangat jihad. Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Spirit perjuangan yang pernah dimiliki tokoh-tokoh terdahulu tak lagi membekas di hati.
Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad.
Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.
Shalahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berhasil mengalahkan Pasukan Salib di Hittin (dekat Acre, kini dikuasai Israel) pada 4 Juli 1187. Pasukan Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis.
Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon (Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Shalahuddin. Reynald akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian yang sangat keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan karena tidak melakukan kekejaman yang serupa.
Tiga bulan setelah pertempuran Hittin, pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam Isra’ Mi’raj (bertepatan 2 Oktober 1187), pasukan Shalahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali oleh pasukan Islam setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh.
Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”
Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)
Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga.
Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon).
Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks–bukan bagian dari Tentara Salib—tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.
Kemenangan tentara Islam yang dipimpin Shalahuddin membuat marah dunia Kristen. Mereka kemudian mengirimkan pasukan gabungan Eropa yang dipimpin Raja Perancis Phillip Augustus, Kaisar Jerman Frederick Barbarossa dan Raja Inggris Richard “Si Hati Singa” (the Lion Heart).
Pada masa ini pertempuran berlangsung sengit. Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre.
Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.
Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.
***
Perang Salib IV berlangsung tahun 1202-1204. Bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki).
Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.
Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang Salib VI (1228), tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa `alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.
Dua Perang Salib VII (1248-1254) dan Perang Salib VIII (1270) dikobarkan oleh Raja Perancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Perancis harus menyerahkan emas yang sangat banyak untuk menebusnya.
Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.
Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun, beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel (ibukota Byzantium, Romawi Timur) oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Andalusia, kawasan Spanyol Selatan yang diperintah dinasti Bani Ummayyah, oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella (1492), juga dianggap Perang Salib.
Sumber:
*[Agung Pribadi, Pambudi.) - www.hidayatullah.com
Keteladanan Shalahuddin Al-Ayyubi Dalam Perang Salib
Jan 10th, 2009
by wiemasen.
Hidayatullah.com–”Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.”
Kisah di atas bukan skenario film yang fiktif, tapi sungguh-sungguh pernah terjadi. Itu adalah pengakuan seseorang bernama Raymond, salah satu serdadu Perang Salib I. Pengakuan ini didokumentasikan oleh August C Krey, penulis buku The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Praticipants (Princeton and London: 1991).
Bagi kaum Muslimin, Perang Salib I (1096-1099) memang menyesakkan. Menurut catatan Krey, hanya dalam tempo dua hari, 40.000 kaum Muslimin dan Yahudi di sekitar Palestina, baik pria maupun wanita, dibantai secara massal dengan cara tak berperikemanusiaan. Cara pembantaiannya tergambar dalam pengakuan Raymond di atas.
Sepak Terjang Tentara Salib
Sejak tentara Islam yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil membebaskan Palestina dari dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) sampai abad ke-11 M, Palestina berada di bawah pemerintahan Islam dan merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi.
Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari kekuasaan Raja Byzantium, Alexius I. Raja ini kemudian minta tolong kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang mereka sebut “orang kafir”.
Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim—yang menguasai Palestina saat itu—menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali,” kata Paus.
Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang.
Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan—terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipil—untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!)
Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci.
Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem).
Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Antiokia, Suriah) pada tanggal 3 Juni 1098.
Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah.
Teladan Shalahuddin Al-Ayyubi
Pada tahun 1145-1147 berlangsung Perang Salib II. Namun pada peperangan ini tidak terjadi pertempuran berarti karena ekspedisi perang tentara Eropa yang dipimpin oleh Raja Louis VII dari Perancis gagal mencapai Palestina. Mereka tertahan di Iskandariyah lalu kembali ke negara asalnya.
Perang besar-besaran baru terjadi sekitar empat dasawarsa berikutnya pada Perang Salib III (1187-1191). Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syi’ah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Dinasti Fathimiyah, merasa prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan Eropa-Kristen yang juga bahu-membahu.
Melalui serangkaian lobi, akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan damai. Pekerjaan pertama selesai. Shalahuddin kini dihadapkan pada perilaku kaum Muslimin yang tampak loyo dan tak punya semangat jihad. Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Spirit perjuangan yang pernah dimiliki tokoh-tokoh terdahulu tak lagi membekas di hati.
Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad.
Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.
Shalahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berhasil mengalahkan Pasukan Salib di Hittin (dekat Acre, kini dikuasai Israel) pada 4 Juli 1187. Pasukan Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis.
Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon (Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Shalahuddin. Reynald akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian yang sangat keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan karena tidak melakukan kekejaman yang serupa.
Tiga bulan setelah pertempuran Hittin, pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam Isra’ Mi’raj (bertepatan 2 Oktober 1187), pasukan Shalahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali oleh pasukan Islam setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh.
Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”
Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)
Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga.
Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon).
Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks–bukan bagian dari Tentara Salib—tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.
Kemenangan tentara Islam yang dipimpin Shalahuddin membuat marah dunia Kristen. Mereka kemudian mengirimkan pasukan gabungan Eropa yang dipimpin Raja Perancis Phillip Augustus, Kaisar Jerman Frederick Barbarossa dan Raja Inggris Richard “Si Hati Singa” (the Lion Heart).
Pada masa ini pertempuran berlangsung sengit. Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre.
Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.
Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.
***
Perang Salib IV berlangsung tahun 1202-1204. Bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki).
Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.
Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang Salib VI (1228), tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa `alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.
Dua Perang Salib VII (1248-1254) dan Perang Salib VIII (1270) dikobarkan oleh Raja Perancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Perancis harus menyerahkan emas yang sangat banyak untuk menebusnya.
Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.
Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun, beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel (ibukota Byzantium, Romawi Timur) oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Andalusia, kawasan Spanyol Selatan yang diperintah dinasti Bani Ummayyah, oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella (1492), juga dianggap Perang Salib.
Sumber:
*[Agung Pribadi, Pambudi.) - www.hidayatullah.com
Langganan:
Postingan (Atom)

